The Legal Vacuum of Time Limits for the Resolution of Judicial Review Cases in the Constitutional Court from the Perspective of Siyasah Dusturiyah
DOI:
https://doi.org/10.51612/teunuleh.v7i2.252Abstract
This study highlights the issue of a regulatory void within the procedural law of the Constitutional Court, specifically regarding the absence of a time limit for the settlement of judicial review cases. Unlike election dispute cases which have strict statutory deadlines, judicial review proceedings often experience undue delays. This research aims to analyze the legal implications of this norm vacuum and formulate an ideal case settlement concept through the perspective of Siyasah Dusturiyah. The method employed is juridical-normative with statutory and conceptual approaches. The findings indicate that the absence of a time limit in Law Number 7 of 2020 creates legal uncertainty, which contravenes the principle of a speedy trial (contante justitie). From the perspective of Siyasah Dusturiyah, this condition violates the principles of Al-‘Adl (justice) and ‘Adam al-Ta’khir (prohibition of delaying rights) within the judicial power (Wilayatul Qadha). Therefore, a reconstruction of regulations establishing a maximum duration for case settlement is necessary for the benefit of justice seekers.
Penelitian ini menyoroti persoalan kekosongan norma dalam hukum acara Mahkamah Konstitusi, khususnya terkait ketiadaan pengaturan batas waktu penyelesaian perkara pengujian undang-undang (judicial review). Berbeda dengan sengketa hasil pemilihan umum yang memiliki tenggat waktu limitatif, perkara uji materi seringkali mengalami proses peradilan yang berlarut-larut (undue delay). Penelitian ini bertujuan menganalisis implikasi hukum dari kekosongan norma tersebut serta merumuskan konsep penyelesaian perkara yang ideal melalui kacamata Siyasah Dusturiyah. Metode yang digunakan adalah yuridis-normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiadaan batas waktu dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2020 menciptakan ketidakpastian hukum yang bertentangan dengan asas peradilan cepat (contante justitie). Dalam perspektif Siyasah Dusturiyah, kondisi ini melanggar prinsip Al-‘Adl (keadilan) dan ‘Adam al-Ta’khir (larangan menunda hak) dalam kekuasaan kehakiman (Wilayatul Qadha). Oleh karena itu, diperlukan rekonstruksi regulasi yang menetapkan durasi maksimal penyelesaian perkara demi kemaslahatan pencari keadilan.
Keywords:
Vacuum of Norm, Constitutional Court, Judicial Review, Siyasah Dusturiyah, Legal Certainty.Downloads
References
Ali, Achmad. (2009). Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicialprudence). Jakarta: Kencana.
Al-Jauziyah, Ibn Qayyim. (n.d.). I’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabb al-‘Alamin. Beirut: Dar al-Fikr.
Al-Syatibi, Abu Ishaq. (2003). Al-Muwafaqat fi Ushul al-Syariah. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah.
Asshiddiqie, Jimly. (2006). Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara. Jakarta: Konstitusi Press.
Asshiddiqie, Jimly. (2014). Peradilan Etik dan Etika Konstitusi. Jakarta: Sinar Grafika.
Cappelletti, Mauro. (1971). Judicial Review in the Contemporary World. Indianapolis: Bobbs-Merrill.
Djazuli, A. (2003). Fiqih Siyasah: Implementasi Kemaslahatan Umat dalam Rambu-rambu Syariah. Jakarta: Kencana.
Ginsburg, Tom. (2003). Judicial Review in New Democracies: Constitutional Courts in Asian Cases. Cambridge: Cambridge University Press.
Huda, Ni'matul. (2011). Dinamika Ketatanegaraan Indonesia dalam Putusan Mahkamah Konstitusi. Yogyakarta: FH UII Press.
Indrati, Maria Farida. (2020). Ilmu Perundang-undangan: Jenis, Fungsi, dan Materi Muatan. Yogyakarta: Kanisius.
Mahfud MD, Moh. (2010). Politik Hukum di Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers.
Manan, Bagir. (2005). Kekuasaan Kehakiman Republik Indonesia. Bandung: LPPM Universitas Islam Bandung.
Marzuki, Peter Mahmud. (2014). Penelitian Hukum. Jakarta: Kencana.
Mertokusumo, Sudikno. (2010). Hukum Acara Perdata Indonesia. Yogyakarta: Cahaya Atma Pustaka.
Pulungan, J. Suyuthi. (2002). Fiqih Siyasah: Ajaran, Sejarah, dan Pemikiran. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Radbruch, Gustav. (1950). Legal Philosophy. (K. Wilk, Trans.). In The Legal Philosophies of Lask, Radbruch, and Dabin. Cambridge: Harvard University Press.
Rahardjo, Satjipto. (2014). Ilmu Hukum. Bandung: Citra Aditya Bakti.
Siahaan, Maruarar. (2011). Hukum Acara Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika.
Soekanto, Soerjono. (2015). Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: UI Press.
Strong, C.F. (2011). Konstitusi-Konstitusi Politik Modern. Bandung: Nusa Media.
Tutik, Titik Triwulan. (2010). Konstruksi Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Amandemen UUD 1945. Jakarta: Kencana.
Zoelva, Hamdan. (2011). Pemakzulan Presiden di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika.
Khallaf, Abdul Wahhab. (2005). Politik Hukum Islam (Siyasah Syar'iyah). Yogyakarta: Tiara Wacana.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2020.
Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.
Constitutional Court Act of Korea (South Korea).
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Muhammad Imam Syuhada, Muhammad Syuib, Bustamam Usman

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.



